Pages

Efek Trauma Anak yang Mengalami Pelecehan Seksual

Img: child sexual abuse/oprah.com
Isu kekerasan seksual tidak akan pernah habis untuk dibahas seiring dengan berjalannya waktu. Pelecehan seksual bisa terjadi pada siapa saja baik tua maupun muda, baik laki-laki maupun perempuan, baik anak-anak, remaja, orang tua, maupun lansia sekalipun tak luput dari sasaran pelecehan. Umumnya pelecehan seksual marak terjadi pada kaum perempuan dan juga anak-anak karena dianggap sebagai kaum yang tak berdaya. Sungguh miris memang.  Karena di luar sana, di surat kabar maupun di televisi tetap saja terdengar isu pelecehan seksual terutama anak-anak. Kondisi anak-anak yang lucu dan menggemaskan ditambah dengan kondisi yang tak berdaya membuat mereka kerap kali menjadi sasaran empuk berbagai pelecehan seksual. Menurut Undang-Undang No. 23 tahun 2002, anak merupakan seseorang yang belum genap berusia 18 tahun, termasuk anak di dalam kandungan sekalipun. Oleh sebab itu maka pada usia-usia seperti ini perlu untuk mendapatkan perlindungan dan hak-hak hukum yang berhak untuk keadilan anak.

Menurut Kazdin (2000) dalam situs APA (American Psychological Assosiation), pelecehan seksual adalah aktivitas kegiatan seksual yang tidak diinginkan dengan menggunakan kekuatan, membuat ancaman atau mengambil keuntungan dari korban yang tidak mampu melakukan persetujuan. Pada umumnya korban dalam pelecehan seksual dan pelaku yang melakukannya saling mengenal. Reaksi dari pelecehan seksual yang dialami oleh korban bisa shock, takut, dan tidak percaya. Gejala jangka panjang terjadi kecemasan, ketakutan, gangguan stres pasca-trauma. 

Menurut Babbel (2013), pada usia yang sangat muda anak-anak belum tahu bagaimana mengekspresikan apa yang telah terjadi dan juga mencari bantuan. Bila hal ini tidak ditangani maka hal ini dapat menjadikan depresi, kecemasan, dan Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) pada anak. Trauma yang dihasilkan dari pelecehan seksual tidak hanya mempengaruhi korban dan keluarga, tapi seluruh masyarakat. Dari anak sendiri trauma yang tak tertangani akan terus terbawa dalam ingatannya sepanjang hidupnya dan ini menghambat mereka dalam berhubungan sosial dengan orang lain.

Suatu tinjauan yang dirilis dari childtrauma.org, satu dari tiga wanita dan satu dari lima laki-laki telah menjadi korban pelecehan seksual sebelum usia 18 tahun. Menurut American Academy of Expert in Traumatic Stress (AATS) dalam Babbel (2013), 30% dari semua anak laki-laki dianiaya dalam berbagai cara dibandingkan dengan 40% dari perempuan. Di Indonesia sendiri, berdasarkan catatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan, angka korban pelecehan seksual terhadap anak semakin tinggi setiap tahun. Dari tahun 2013 ke 2014 kenaikan mencapai 100 persen baik mereka yang menjadi korban maupun pelaku. 

Mengenai pelecehan seksual pada anak dalam situs parentsprotect.co.uk, pelecehan anak terdapat aktivitas menyentuh dan tidak menyentuh. Beberapa kegiatan menyentuh seperti menyentuk alat kelamin anak atau bagian pribadi untuk kenikmatan seksual, membuat anak menyentuh alat kelamin orang lain, bermain permainan seksual atau melakukan hubungan seks dengan meletakkan benda-benda pada bagian tubuh pada organ vital. Adapun pelecehan pada anak yang bersifat tidak menyentuh tubuh yaitu menunjukkan pornografi pada anak, memperlihatkan alat kelamin orang dewasa kepada anak, memotret anak pada pose seksual, mendorong anak untuk menonton dan mendengarkan adegan seksual.


Gejala spesifik dari pelecehan seksual dalam kutipan American Academy of Expert in Traumatic Stress yaitu:


  1. Penarikan diri dan ketidakpercayaan pada orang dewasa
  2. Bunuh diri
  3.  Kesulitan untuk berhubungan dengan orang lain kecuali dengan cara seksual dan menggoda
  4. Menghindari segala sesuatu yang berhubungan dengan seksual atau fisik
  5. Kesulitan tidur, mimpi buruk, ketakutan untuk pergi ke tempat tidur
  6. Kecenderungan untuk melukai diri sendiri (perilaku yang merugikan diri sendiri)
  7. Penolakan untuk pergi ke sekolah atau ke dokter
  8. Komponen seksual dengan gambar dan game
  9. Reaksi neurotik (obsesi, kompulsif, fobia)
  10. Gangguan kebiasaan (menggigit, menggoyang)
  11. Pengetahuan atau perilaku seksual yang tidak biasa
  12. Pelacuran
  13. Pemaksaan untuk melakukan tindakan seksual pada anak lain
  14. Sangat takut untuk disentuh
  15. Keengganan untuk menyerahkan diri saat pemeriksaan fisik
Dalam situs South Eastern CASA yang menangani pusat kekerasan seksual dan kekerasan keluarga, efek psikologis yang dapat ditimbulkan akibat pelecehan seksual pada anak yaitu:


  1. Takut. Pelaku dapat memaksa anak untuk menjaga rahasia dan mengatakan bahwa jika anak melaporkan maka sesuatu yang buruk akan terjadi biasanya seperti ancaman maupun suapan sehingga anak takut untuk menceritakan karena takut pada dampaknya, misal berupa hukuman ataupun ditinggalkan.
  2. Ketidakberdayaan. Anak-anak dalam kondisi ini sering merasa bahwa mereka tidak memiliki kontrol atas diri mereka sendiri. Mereka merasa bahwa dirinya tidak memiliki pilihan yang tersedia untuk mereka pilih.
  3. Rasa bersalah dan malu. Anak tahu bahwa ada sesuatu yang salah dan menyalahkan dirinya sendiri bukan orang lain. Perbuatan pelaku membuat anak merasa bahwa perbuatan pelecehan itu adalah salanya dan menganggap bahwa dirinya buruk.
  4. Tanggung jawab. Pelaku sering melakukan penyalahgunaan dengan membuat anak merasa bertanggungjawab untuk menjaga rahasia. Terkadang anak berusaha untuk bertanggungjawab dalam menjaga keluarga.
  5. Isolasi (menutup diri). Korban merasa berbeda dari anak-anak dan juga mengisolasi (menutup) diri dari keluarga dan saudaran
  6. Pengkhianatan. Anak merasa dikhianati karena mereka tergantung dengan orang dewasa dalam perlindungan dan pemeliharaan pada orang dewasa yang mereka cintai dan percayai. Mereka juga merasa telah dikhianati orang tua yang telah gagal untuk melindungi mereka.
  7.  Marah. Ini adalah perasaan terkuat yang dimiliki oleh banyak anak yang mengalami pelecehan seksual terhadap pelaku dan juga orang lain yang mereka rasa gagal untuk melindungi mereka.
  8. Kesedihan. Anak-anak merasa sedih karena telah merasa kehilangan, terutama bila pelaku tersebut adalah orang yang dicintai dan dipercaya oleh anak.
  9. Flashback. Hal ini bisa menjadi mimpi buruk pada anak yang terjadi saat anak terjaga. Mereka akan mengingat pengalaman pelecehan seksual dan ini akan menimbulkan berbagai macam perasaan lagi seperti pada saat itu terjadi.
Apa yang bisa anda lakukan?

  1. Open Up! menulis tentang trauma dari pelecehan seksual, cara mengurangi stres, dan imunitas AIDS. Menulis mengenai pegalaman yang sulit bahkan trauma tampaknya baik untuk beberapa tingkatan, selain itu anda dapat membagikan apa yang anda rasakan kepada orang lain sehingga orang lain setidaknya akan ikut bersimpati kepada anda.
  2.  Memulihkan emosi dengan memahami emosi dan tanggapan normal yang mengikuti peristiwa traumatis dapat membantu anda untuk dapat mengatasi perasaan anda, pikiran, dan perilaku yang dapat membantu anda pada proses pemulihan.

Memberikan Pertolongan

  1. Kebanyakan orang akan mengalami trauma pada beberapa titik dalam kehidupannya dan beberapa diantaranya akan mengganggu kehidupan sehari-hari. Intervensi psikologis yang efektif akan mencegah efek panjang dari trauma tersebut. 
  2. Melindungi anak dari penyalahgunaan. Sebuah brosur ditulis untuk orang tua, guru, kerabat, dan orang-orang yang merawat anak-anak tentang bagaimana mengenali dan mencegah penyalahgunaan dan penelantaran anak. Memberikan informasi tentang penyebab dan apa yang terjadi pada anak-anak yang dilecehkan.

Terdapat beberapa tips agar orang tua mengetahui cara untuk melindungi anak agar terhindar dari pelecehan seksual tersebut:
  1. Edukasi seksual. Jaman sekarang sudah semakin maju dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Sudah tidak ada yang namanya cerita tabu untuk orang tua dalam menceritakan hal yang berbau seksual kepada anak. Orang tua harus secara terbuka memberitahu kepada anak mengenai pengetahuan akan seksual, bagaimana cara pencegahannya, siapa saja yang tidak boleh menyentuh organ vitalnya. Jika orang tua tidak memberitahu sejak dini, bukan tidak mungkin anak akan mencari tahu sendiri lewat internet maupun bertanya pada teman sebaya yang tentunya malah berbahaya untuk anak.
  2.  Terapkan sikap berani. Ajarkan pada anak untuk berani menolak, berteriak, dan berkata tidak jika ada orang yang membuatnya tidak nyaman.
  3. Terapkan sikap terbuka. Ajarkan anak untuk bersikap terbuka seperti bercerita mengenai pengalamannya ketika di sekolah, jika anak merasa terancam dan  tertekan lakukanlah pendekatan agar anak mau bercerita.
  4. Memperhatikan lingkungan anak. Seperti teman anak, guru, bacaan yang dibaca anak (terutama komik), tontonan, permainan game yang dimainkan.
  5.  Memperhatikan perilaku anak. Seperti perubahan perilaku yang mendadak dari ceria menjadi murung, selalu mengurung diri di kamar, suka memegang alat kelaminnya, dan berbagai perilaku yang tidak wajar pada anak.
   Referensi:

     Babbel, S (2013). Trauma: Childhood Sexual Abuse. Dikutip pada tanggal 27 Januari 2017 dari Psychology Today: https://www.psychologytoday.com/blog/somatic psychology/201303/trauma-childhood-sexual-abuse

      Hendrian, D. (2016). KPAI: Pelecehan Seksual padda Anak Meningkat 100%. Dikutip pada tanggal 27 Januari 2017 dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI): http://www.kpai.go.id/berita/kpai-pelecehan-seksual-pada-anak-meningkat-100/

Kazdin, A.E. (2000). Sexual Abuse. Dikutip pada tanggal 27 Januari 2017 dari American Psychological Association (APA): http://www.apa.org/topics/sexual-abuse/

Parents Protect. What is Child Sexual Abuse?. Dikutip pada tanggal 27 Januari 2017 dari http://www.parentsprotect.co.uk/wat_is_child_sexual_abuse.htm

South Eastern CASA. The Effects of Childhood Sexual Abuse. Dikutip pada tanggal 27 Januari 2017 dari South Eastern CASA: http://www.secasa.com.au/pages/the-effects-of-childhood-sexual-abuse/




Kata Kunci

  • post traumatic stress disorder
  • traumatic stress
  • traumatic stress disorder
  • games
  • stress disorder
  • tabu
  • trauma
  • pelecehan seksual
  • keluarga
  • perlindungan anak

Anindya Octaviani Ekawitri

Berasal dari Bontang dan merupakan mahasiswa Psikologi. Sangat menyukai hal yang berhubungan dengan psikologi, agama, seni, pengembangan diri, kuliner, dan Pelayanan Sosial

No comments: