Pages

Pengalamanku di Bidang Musik


Hari ini, Rabu tanggal 26 November 2014,  saya akan melaporkan kejadian hari ini. Laporan hari ini adalah kesibukanku bermain kulintang disela-sela waktu kuliah dan kegiatan organisasi. Kulintang ini sebenarnya bukan salah satu musik yang saya dan teman-teman mainkan. Ada angklung juga yang merupakan sahabat dari kulintang. Dimana ada kulintang disitu ada angklung, meski tidak selalu hadir untuk dimainkan secara bersamaan. Sebenarnya ini adalah kegiatan dari UKM 3 yang disingkat KoLung (Kolintang & Angklung) dan ini merupakan alat musik tradisional dari Jawa Barat (Hayo, siapa yang tak tahu? balik ke SD gih belajar IPS kalau nggak tahu ( ^ω^))

 Bagiku tak ada alat musik yang tak mau kumainkan. Apapun alat musiknya, mau tradisional atau modern, sikat abis!

Nama acara perdana kolung


Sekedar bernostalgia, sejak kecil saya suka sekali bermain musik dan menyanyi, meskipun begitu saya tidak punya piano ataupun alat musik lainnya di rumah. Sedih ya. Yah begitulah. Tapi itu tidak bisa dijadikan alasan buatku untuk tidak bermain musik. Tak ada piano ataupun biola, drum kaleng pun jadi. Terkadang saya juga suka bermain ala drummer dengan memukul pembatas yang terbuat dari kayu di teras rumah. Saya kadang berkreasi bersama dengan teman-teman saya dengan mengumpulkan tutup botol yang terbuat dari (aluminium atau besi ya, tutup kayak teh botol itu) untuk kemudian dipasang pada tongkat kayu, dipaku, dan jadilah kincringan kalau kami bilang. Lalu kotak tisu, dimana dibagian tengah yang berlubang kami beri karet mirip senar gitar dan kami beri penyangga diatas kotak tersebut seolah-olah itu gitar, meski jujur saja bunyinya nggak mirip gitar. Setelah saya memiliki pianika, saya mulai berlatih not-not musik. Mama saya membelikan buku musik yang berisi not-not yang bisa saya pelajari. Hore! Saya Bisa! Kalau bisa main pianika, berarti bisa main piano dong, hehehe. Sewaktu SD saya pernah ditawari main Marching Band tetapi saya menolak. Sayang sekali, saya menyesali keputusan saya waktu itu.
Ini namanya PK, alat musik yang aku mainkan.


Setelah masuk SMA, saya mengenal apa itu alat musik karawitan karena di sekolah saya ada ekstrakurikuler karawitan. Waktu SMA saya aktif di Rohis, Himade (ekskul jepang), dan karawitan. Tahu karawitan nggak? Jangan bilang nggak tahu! Karawitan itu alat musik tradisional  yang sering jadi pengiring di Opera Van Java (Kalau teman-temanku pada tanya apa itu karawitan, biasanya aku juga menjawab hal yang sama). Kalau sahabat saya bilang bunyinya karawitan itu terkesan mistis-mistis gimana gitu, makanya dia tertarik buat masuk. Hihihi masa sih? Perasaan biasa saja, hehe. Bagi orang biasa yang tidak pernah main karawitan, kesannya itu, orang yang main karawitan itu pasti biasanya dimainkan oleh orang tua, terutama bapak-bapak, bikin ngantuk, dan tentunya pengantar permainan wayang. Aku pribadi juga begitu sih. Soalnya mereka mainnya lambat banget, jadinya membosankan.

Ini BK (Bass Kecil) Sebelum semester 3 aku sering sekali main alat musik ini + yang itu ada minumanku


Setelah aku mencoba memainkan alat musiknya, jujur, tidak membosankan kok. Sekali main bikin ketagihan, semacam ecstasy (sorry lebay). Pelatih kami selalu memberikan lagu dengan tempo yang semangat, jadi kami yang memainkannya juga ikut bersemangat \(^o^)/ (Iyalah, kami ini kan kawula muda, musiknya ya harus bikin semangat ψ(`∇´)ψ ) Kami selalu tampil mengisi acara-acara yang diadakan sekolah kami maupun acara pertunjukan wayang. Karawitan ini diapresiasi oleh sekolah kami loh, bahkan kami pernah mengikuti lomba tingkat nasional di Universitas Tarumanegara di Jakarta, meskipun kalah, tapi kami bangga  sudah membawa nama sekolah kami :')  (✿◖◡​◗)❤

Saat kuliah di semester awal saya juga mengikuti karawitan lagi, hitung-hitung mengobati rasa kangen dan tetap mengasah kemampuan saya dalam bermain. Hanya saja permainannya membosankan, monoton dan temponya lambat. Saya mengisi karawitan waktu itu saat pelantikan rektor. Disela-sela bermain karawitan, saya juga mengikuti kulintang, meski waktu itu saya lebih fokus ke karawitan. Saat semester tiga saya memutuskan untuk keluar dari karawitan, karena jujur saja membosankan bagi saya, beda jauh saat di SMA. Akhirnya mulai semester tiga saya benar-benar fokus di kulintang angklung dan bertahan sampai sekarang. Teman saya, sesama pemain kulintang, mengatakan saya pemain legendaris karena masih terus bertahan. Mau gimana ya, kalau sudah cinta dan nyaman ya tak ada kata bosan untuk terus-menerus bermain disini. Lagipula ini satu-satunya alat musik yang bisa saya mainkan saat ini, karena tentunya di kos tidak ada piano dan kawan-kawan kan, sekaligus pengusir jenuh, dan pengisi waktu luang. Omong-omong tanggal 12-13 Desember ini kami akan mengikuti lomba, kostumnya sedang dijahit, namun, kami mempersiapkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Doakan kami supaya sukses ya!  旦~~(=゚ω゚)ノ

Sekian curhat dan laporan dari saya, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk membaca yang entah mengapa menurutku panjang sekali(◉◞౪◟◉ )ლ

Ini alat-alat musiknya, ada BK, PB, dan PK.

Ini Melody
Sekedar tambahan, dibawah ini adalah cemilan disela-sela latihanku. #Nggakpenting.#Bodoamat. #Tapienaksih.




Ini minuman terenak yang pernah kuminum
Beli di In**m*r*t point
Kue ini enak banget

Biasanya sebelum latihan biasanya aku beli popmie yang sudah diseduh, lumayan pengganjal perut sehabis kuliah terus dilanjutkan latihan. Temanku sudah hapal dengan kebiasaanku dan bilang, ''Anin ini datang mesti bawa popmie'' Biasanya langsung kubalas dengan senyum selebar mungkin.



Rabu, 26 November 2014


Anindya O. Ekawitri

Anindya Octaviani Ekawitri

Berasal dari Bontang dan merupakan mahasiswa Psikologi. Sangat menyukai hal yang berhubungan dengan psikologi, agama, seni, pengembangan diri, kuliner, dan Pelayanan Sosial

2 comments:

Samuel Agustinus said...

Kolintang asalnya dari Minahasa (Sulawesi Utara) Nin, bukan Jawa Barat, Angklung yang dari Sunda.

Anindya Octaviani Ekawitri said...

Wah ada Samuel, haha terima kasih atas masukannya Sam, Gak nyangka ada yang baca, haha