Pages

Jangan Hanya Bicara, Dengarkan Juga Bayi Anda

Foto: keywordsuggest

Dilansir MIZANMAG.COM – Sebagai orang tua, Anda tidak bisa melewatkan satu hal penting dari pembelajaran awal buah hati Anda, yaitu kata-kata. Menurut teori, berbicara dengan anak, meskipun mereka masih bayi, akan memperkecil jarak pendidikan, karena pengalaman bahasa sejak dini merupakan dasar dari pembelajaran anak dan kunci sukses mereka di sekolah.

Namun, bagaimana jika bayi Anda juga ingin membalas kata-kata Anda?

Ternyata, bayi juga ingin bercakap-cakap dengan Anda. Penelitian di Cornell University dan beberapa universitas lainnya di Amerika Serikat, menemukan bahwa sering berbicara dengan bayi saja tidak cukup, karena Anda pun harus mendengarkan respon yang diberikan oleh bayi Anda. Suara-suara yang dikeluarkan oleh bayi, baik itu celotehan-celotehan tidak jelas yang keluar dari mulutnya, merupakan upaya buah hati Anda untuk mendapat perhatian dari orangtuanya. Ini merupakan salah satu cara awal bayi untuk bersosialisasi dengan manusia, dan walaupun mereka belum mampu membentuk sebuah kata, tapi penting untuk membuat bayi merasa bahwa mereka juga didengarkan, dan bukan hanya diceramahi.

Celotehan dikenal luas sebagai awal yang penting dalam percakapan dan merupakan awal bagi perkembangan kognitif dan emosi sosial bagi bayi. Jadi, jika bayi Anda tidak berceloteh dengan biasa, maka bisa jadi ada hal yang mengganggunya, dan merupakan tanda dari hal lain yang lebih besar, seperti tidak ada cukup kata-kata yang diucapkan kepada bayi, masalah pendengaran, atau mungkin permasalahan dalam pembentukan kata. Dengan kata lain, jika bayi tidak berceloteh maka pasti ada sesuatu hal yang salah dengan lingkungannya, dengan pendengarannya, atau dengan otaknya.

Satu hal yang pertama kali diketahui oleh para ilmuwan mengenai celotehan bayi adalah: bayi di seluruh dunia berceloteh dengan cara yang sama. Ketika menginjak usia dua tahun, barulah para batita mulai membentuk suara dengan kata-kata yang identik dengan bahasa ibu mereka.

Beberapa penelitian menarik, menurut D. Kimbgrough Oller, profesor audiologi dan patologi bahasa dari University of Memphis, di antaranya yang menganalisa suara yang dikeluarkan bayi pada semester awal kehidupan mereka, ketika mereka “memekik, menggeram, dan mengeluarkan suara”. Suara-suara ini merupakan dasar dari bahasa mereka kemudian, dan interaksi sosial apapun antara bayi dan orang tua di masa-masa ini tidak membentuk suku kata ataupun terdengar seperti kata apapun.

Baru setelah enam bulan, bayi mulai menghasilkan celotehan yang mulai bermakna, sehingga meskipun suara-suara awal yang dikeluarkan bayi tidak dianggap sebagai kata-kata oleh para orang tua, setelah enam bulan orang tua mulai mengenali suara yang dikeluarkan oleh bayi mereka. Seperti suara “mam mam” atau “ba ba ba” yang dikenali orang tua sebagai cara bayi untuk menamai sesuatu dan tanda bahwa mereka ingin mendapatkan perhatian dari orang tua mereka. Ketika bayi mulai mengeluarkan suara semacam ini, maka orang tua mulai mengakui suara bayi sebagai bagian dari percakapan keluarga.

Di usia ini, bayi mulai mengeluarkan kata-kata yang tidak terdiri dari vokal saja, tapi juga konsonan. Disinilah pentingnya peran orang tua ataupun keluarga dekat untuk membantu bayi agar bisa berkomunikasi. Bayi belajar memproduksi suara dengan mendengar semua kata yang mampir di telinganya, sehingga kemudian mereka dapat memilah-milahnya di dalam otak kecil mereka.

Keluarnya konsonan dalam percakapan bayi merupakan tanda bahwa mereka sedang berlatih, untuk membuat suara yang berbeda dengan menggerakkan mulut dan lidah, lalu mendengarkan hasilnya. Proses yang biasanya terjadi hingga usia 12 bulan ini membutuhkan kehadiran orang tua, kakek, nenek, ataupun manusia lain yang ada di dekat sang bayi. Televisi maupun video pendidikan tidak akan berguna bagi bayi, karena mereka tidak bisa melihat dan mendengar secara langsung bagaimana Anda memproduksi suara itu di hadapan mereka. Padahal, ini merupakan syarat penting bagi bayi untuk belajar berbicara.

Itulah sebabnya kenapa berbicara dengan bayi Anda, lalu mendengarkan apa respon mereka, adalah hal yang sangat penting bagi pertumbuhan mereka, baik fisik maupun psikologis. Dengan cara inilah mereka belajar untuk berkomunikasi, agar di kemudian hari mereka dapat berbicara dengan normal selayaknya manusia dengan Anda, orangtuanya, dan membicarakan banyak hal yang terjadi di kehidupannya. [TIME/NY Times]

Anindya Octaviani Ekawitri

Berasal dari Bontang dan merupakan mahasiswa Psikologi. Sangat menyukai hal yang berhubungan dengan psikologi, agama, seni, pengembangan diri, kuliner, dan Pelayanan Sosial

No comments: