Pages

Belajar 5 Hal Ini Dari Negara Paling Bahagia Di Dunia

(nationalgeographic)



Dilansir MIZANMAG.COMKebahagiaan adalah sesuatu yang terus dicari oleh setiap manusia, yang hidup di muka bumi ini. Demi menemukan kebahagiaan, mereka rela melakukan perjalanan hingga ribuan kilometer, mengeluarkan banyak uang, mendaki gunung tertinggi, hingga menyelami laut terdalam. Kenapa? Karena tanpa kebahagiaan, harta, status, atau pendidikan yang tinggi tidak ada gunanya. Beberapa dari mereka menemukannya, sementara yang lainnya tidak.

Kebahagiaan memang sebuah misteri, dan sangat sulit untuk mengukur tingkat kebahagiaan yang dirasakan oleh setiap orang. Namun, PBB memberanikan diri untuk melakukan sebuah survei global, terhadap level kebahagiaan orang-orang di 156 negara. Disponsori oleh United Nations Sustainable Development Solutions Network, PBB menggunakan kriteria seperti kesejahteraan, kesehatan, kebebasan untuk menentukan pilihan kehidupan, memiliki orang yang bisa diandalkan di masa sulit, bebas korupsi, hingga kedermawanan penduduknya.

Lantas, negara manakah yang menurut PBB pantas disebut sebagai negara paling bahagia di dunia?

Ternyata, berdasarkan survei tersebut, negara paling bahagia jatuh pada Denmark, negara Eropa Utara yang memang dikenal sebagai negara maju dan juga makmur. Di bawah Denmark ada Norwegia, Swiss, Belanda, dan kemudian Swedia, yang baru-baru ini mendapatkan perhatian dunia karena kasus penyerangan terhadap Muslimah, yang berujung pada gerakan solidaritas wanita Swedia untuk mengenakan hijab. Sementara itu, Indonesia sendiri masuk ke dalam urutan ke-76 dari 156 negara yang ada.

Apa sajakah yang dapat kita pelajari dari negara-negara paling bahagia di dunia? Berikut lima diantaranya.

1. Butuh uang banyak untuk menjadi kaya
Tentu saja. Uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi kita bisa melihat bahwa negara-negara paling bahagia adalah negara yang memiliki biaya hidup tinggi. Mereka memiliki pajak yang tinggi, menghabiskan uang yang banyak untuk program kesejahteraan sosial, dan menikmati pelayanan kesehatan yang sangat baik. Tidak ada perang di tempat seperti ini. Tidak ada malaria. Dan hanya sedikit sekali korupsi.

2. Banyak uang banyak masalah
Di lain pihak, Jeffrey Sachs, selaku direktur Earth Institute di Columbia University, menjelaskan bahwa kekayaan ternyata dapat menimbulkan stres dan juga permasalahan sendiri. Sachs memperingatkan bahwa industri iklan mendapatkan keuntungan sekitar US$ 500 miliar per tahunnya, dengan “memangsa orang-orang yang memiliki kelemahan psikologis dan dorongan tidak sadar,” yang akan membuat kita semakin tidak bahagia. Berbagai produk tidak sehat seperti rokok, permen, dan makanan mengandung lemak trans didorong untuk merugikan diri kita.

Tekanan dan kekecewaan tersebut menjelaskan kenapa secara keseluruhan, tingkat kebahagiaan di Barat akhir-akhir ini justru mengalami penurunan, sementara di negara-negara berkembang, khususnya di wilayah Amerika Latin dan negara sub-Sahara di Afrika, kini justru menjadi lebih bahagia.

3. Menjadi miskin di Eropa sangatlah berat
Contoh nyatanya adalah Bulgaria, yang meskipun tergabung dalam Uni Eropa, merupakan negara termiskin dan kini sedang digerogoti oleh permasalahan korupsi. Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa sekitar 5 persen penduduk Bulgaria berencana untuk meninggalkan tanah kelahiran mereka dan bermigrasi ke Inggris atau Jerman, demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Ketidakbahagaiaan Bulgaria, yang diukur berdasarkan survei, menempatkan negara ini di deretan terbawah negara-negara paling tidak bahagia di dunia. Bulgaria kini berada di urutan ke-144, tepat di bawah Afghanistan (143), Yaman (142), dan juga Irak (105). Bahkan Zimbabwe, yang tengah mengalami inflasi hingga 1.200 persen dalam sepuluh tahun terakhir, ternyata masih lebih bahagia dari pada penduduk Bulgaria, dengan menempati peringkat 103 di dalam daftar.

4. Udara yang menakjubkan tak memberikan kebahagiaan
Lautan biru yang menghampar hingga Anda bisa melihat ikan-ikan bermain di dasarnya, pasir putih yang lembut dan berkilau ditimpa cahaya matahari, barisan pohon kelapa yang menari-nari ditiup angin, adalah gambaran surga yang diidam-idamkan oleh banyak orang. Namun, dari penelitian ini kita belajar bahwa udara yang cerah dan menakjubkan tidak membuat kita lebih bahagia, karena negara-negara paling bahagia justru berada di tempat-tempat dengan cuaca paling ekstrim di dunia.

Misalnya saja Islandia, dalam setahun hampir tidak diterangi cahaya matahari, justru menempati peringkat ke-9 di dalam daftar. Di lain pihak, negara yang menjadi tujuan wisata favorit untuk berbulan madu, seperti Mauritius justru berada di peringkat 67. Begitu juga dengan Jamaika, yang terletak di Karibia dan menjadi inspirasi banyak orang karena keindahannya, hanya menempati peringkat 75 di dalam daftar, tepat satu peringkat di atas Indonesia.

5. Orang bahagia memilih (sendiri dan dengan sadar) untuk mengendarai sepeda
Denmark dan Belanda (negara paling bahagia pertama dan keempat di bumi) dikenal sebagai negara-negara yang paling baik, bagi penggemar kendaraan roda dua yang ramah lingkungan ini. Begitupun dengan negara-negara paling bahagia lainnya, mereka terkenal sebagai negara-negara yang ramah bagi pengendara sepeda.

Namun, tampaknya hanya penduduk di negara maju yang memilih dengan sadar untuk menggunakan sepeda, baik karena sistem transportasi yang sudah maju dan efisien ataupun kesadaran untuk menyelamatkan bumi. Sementara itu, di negara berkembang ataupun negara tertinggal, sepeda adalah simbol kemiskinan. Misalnya saja pernyataan salah satu kontestan sebuah acara permainan di televisi China—yang berada di peringkat 93—yang cukup menggambarkan dengan jelas kondisinya, “Aku lebih baik menangis di dalam BMW daripada tertawa di atas sepeda.”. Tentu saja ia bukanlah satu-satunya orang yang berpendapat seperti itu, karena di banyak tempat, kepemilikan kendaraan bermotor adalah pertanda kemakmuran, kekayaan, dan juga kebahagiaan.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda setuju bahwa Indonesia memang tidak lebih bahagia dari negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, bahkan Vietnam? [National Geographic]

Anindya Octaviani Ekawitri

Berasal dari Bontang dan merupakan mahasiswa Psikologi. Sangat menyukai hal yang berhubungan dengan psikologi, agama, seni, pengembangan diri, kuliner, dan Pelayanan Sosial

No comments: